Nama pribumi dari Tuanku Imam Bonjol ialah Muhammad Shahab, yang bermunculan di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat pada tahun 1772. Sebagai ulama dan pemimpin masyarakat setempat, ia memperoleh sejumlah gelar, yakni Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Tuanku nan Renceh dari Kamang sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan ialah yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) untuk kaum Padri di Bonjol. Ia kesudahannya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.
Perang Padri
Setelah berakhirnya perang Diponegoro & pulihnya kekuatan Belanda di Jawa, Pemerintah Hindia-Belanda kembali mengupayakan untuk menundukan Kaum Padri. Hal ini paling didasari oleh kemauan kuat guna penguasaan penanaman kopi yg sedang meluas di area pedalaman Minangkabau [darek].
Sampai abad ke-19, komoditas perniagaan kopi merupaken di antara produk tumpuan Belanda di Eropa. Christine Dobbin menyebutnya lebih untuk perang dagang, urusan ini seiring dengan dinamika evolusi sosial masyarakat Minangkabau dlm liku-liku perniagaan di terpencil & pesisir pantai barat atau pantai timur. Sementara Belanda pada satu sisi hendak mengambil alih atau monopoli.
Selanjutnya guna melemahkan kekuatan lawan, Belanda melanggar perjanjian yg telah diciptakan sebelumnya dengan menyerang nagari Pandai Sikek yg merupaken salah satu area yg dapat memproduksi mesiu & senjata api. Kemudian guna memperkuat kedudukannya, Belanda membina benteng di Bukittinggi yg dikenal dengan nama Fort de Kock.
Pada mula bulan Agustus 1831 Lintau sukses ditaklukkan, menjadikan Luhak Tanah Datar berada dlm kendali Belanda. Namun Tuanku Lintau masih tetap mengerjakan perlawanan dari area Luhak Limo Puluah. Sementara saat Letnan Kolonel Elout melakukan sekian banyak serangan terhadap Kaum Padri antara tahun 1831-1832, ia mendapat tambahan kekuatan dari pasukan Sentot Prawirodirdjo salah seorang panglima pasukan Pangeran Diponegoro yg sudah membelot & berdinas pada Pemerintah Hindia-Belanda setelah usai perang di Jawa.
Namun lantas Letnan Kolonel Elout berpendapat, kehadiran Sentot yg ditempatkan di Lintau malah menimbulkan masalah baru. Beberapa dokumen-dokumen sah Belanda membuktikan kekeliruan Sentot yg telah mengerjakan persekongkolan dengan Kaum Padri sehingga lantas Sentot & legiunnya dibalikkan ke Pulau Jawa. Di Jawa, Sentot pun tak sukses menghilangkan ketidakpercayaan Belanda terhadap dirinya, & Belanda pun pun tak hendak ia tetap sedang di Jawa & mengirimnya pulang ke Sumatera. Namun di tengah perjalanan, Sentot diturunkan & disangga di Bengkulu, kemudian ditinggal hingga mati sebagai orang buangan. Sedangkan pasukannya diajak bubar kemudian direkrut berubah menjadi tentara Belanda.
Pada bulan Juli 1832, dari Jakarta dikirim pasukan infantri dlm jumlah besar di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ferdinand P. Vermeulen Krieger, guna mempercepat solusi peperangan. Dengan ekstra pasukan itu pada bulan Oktober 1832, Luhak Limo Puluah sudah berada dlm dominasi Belanda bersamaan dengan meninggalnya Tuanku Lintau. Kemudian Kaum Padri terus mengerjakan konsolidasi & berkubu di Kamang, tetapi seluruh kekuatan Kaum Padri di Luhak Agam pun dapat ditaklukkan Belanda setelah jatuhnya Kamang pada akhir tahun 1832, sampai-sampai kembali Kaum Padri darurat mundur dari area luhak & bertahan di Bonjol.
Selanjutnya pasukan Belanda mulai mengerjakan penyisiran pada sejumlah kawasan yg masih menjadi basis Kaum Padri. Pada mula Januari 1833, pasukan Belanda membina kubu pertahanan di Padang Mantinggi, tetapi sebelum mereka bisa memperkuat posisi, kubu pertahanan itu diserang oleh Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Rao yg mengakibatkan tidak sedikit korban di pihak Belanda. Namun dlm peperangan di Air Bangis, pada tanggal 29 Januari 1833, Tuanku Rao menderita luka berat dampak dihujani peluru. Kemudian ia ditingkatkan ke atas kapal guna diasingkan. Belum lama sedang di atas kapal, Tuanku Rao mendatangi ajalnya. Diduga jenazahnya kemudian dilemparkan ke laut oleh tentara Belanda.
Lamanya solusi peperangan ini, memaksa Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Johannes van den Bosch pada tanggal 23 Agustus 1833 pergi ke Padang untuk menyaksikan dari dekat proses operasi militer yg dilaksanakan oleh pasukan Belanda. Sesampainya di Padang, ia mengerjakan perundingan dengan Komisaris Pesisir Barat Sumatera, Mayor Jenderal Riesz & Letnan Kolonel Elout guna segera menaklukkan Benteng Bonjol, pusat komando pasukan Padri. Riesz & Elout menjelaskan bahwa belum datang saatnya yg baik untuk menyelenggarakan serangan umum terhadap Benteng Bonjol, sebab kesetiaan warga Luhak Agam masih disangsikan & mereka sangat barangkali akan menyerang pasukan Belanda dari belakang. Tetapi Van den Bosch bersikeras guna segera menaklukkan Benteng Bonjol sangat lambat tanggal 10 September 1833, kedua opsir itu meminta tangguh enam hari sampai-sampai jatuhnya Bonjol diinginkan pada tanggal 16 September 1833.
Taktik serangan gerilya yg diterapkan Kaum Padri kemudian sukses memperlambat gerak laju serangan Belanda ke Benteng Bonjol, bahkan dlm sejumlah perlawanan nyaris semua perangkat perang pasukan Belanda laksana meriam beserta perbekalannya bisa dirampas. Pasukan Belanda melulu dapat membawa senjata & pakaian yg melekat di tangan & badannya. Sehingga pada tanggal 21 September 1833, sebelum Gubernur Jenderal Hindia-Belanda digantikan oleh Jean Chrétien Baud, Van den Bosch menciptakan laporan bahwa penyerangan ke Bonjol tidak berhasil & sedang dicoba untuk konsolidasi untuk penyerangan selanjutnya.
Kemudian sekitar tahun 1834 Belanda hanya konsentrasi pada penciptaan jalan & jembatan yg menuju Bonjol dengan mengerahkan ribuan tenaga kerja paksa. Hal ini dilaksanakan untuk mempermudah mobilitas pasukannya dlm menaklukkan Bonjol. Selain tersebut pihak Belanda pun terus berjuang menanamkan pengaruhnya pada sejumlah kawasan yg dekat dengan kubu pertahanannya. Pada tanggal 16 April 1835, Belanda menyimpulkan untuk kembali menyelenggarakan serangan besar-besaran guna menaklukkan Bonjol & sekitarnya. Operasi militer dibuka pada tanggal 21 April 1835, pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan Kolonel Bauer, memecah pasukannya mengarah ke Masang menjadi dua unsur yg bergerak setiap dari Matur & Bamban. Pasukan ini harus menyeberangi sungai yg saat tersebut tengah dilanda banjir, & terus masuk menyelusup ke dlm hutan rimba; memanjat gunung & menuruni lembah; untuk membuka jalur baru mengarah ke Bonjol.
Pada tanggal 23 April 1835 gerakan pasukan Belanda ini telah sukses mencapai tepi Batang Gantiang, lantas menyeberanginya & berkumpul di Batusari. Dari sini melulu ada satu jalan sempit mengarah ke Sipisang, wilayah yg masih dikuasai oleh Kaum Padri. Sesampainya di Sipisang, pecah peperangan sengit antara pasukan Belanda dengan Kaum Padri. Pertempuran dilangsungkan selama tiga hari tiga malam tanpa henti, sampai tidak sedikit korban di kedua belah pihak. Akhirnya dengan kekuatan yg jauh tak sebanding, pasukan Kaum Padri darurat mengundurkan diri ke hutan-hutan rimba sekitarnya. Jatuhnya wilayah Sipisang ini menambah moralitas pasukan Belanda, kemudian wilayah ini dijadikan sebagai kubu pertahanan sambil menantikan pembuatan jembatan mengarah ke Bonjol.
Walau pergerakan laju pasukan Belanda mengarah ke Bonjol masih paling lamban, nyaris sebulan masa-masa yg dibutuhkan untuk bisa mendekati wilayah Alahan Panjang. Sebagai front terdepan dari Alahan Panjang ialah wilayah Padang Lawas yg secara sarat masih dikuasai oleh Kaum Padri. Namun pada tanggal 8 Juni 1835 pasukan Belanda sukses menguasai wilayah ini. Selanjutnya pada tanggal 11 Juni 1835 pasukan Belanda pulang bergerak mengarah ke sebelah unsur timur Batang Alahan Panjang & menciptakan kubu pertahanan disana, sedangkan pasukan Kaum Padri tetap bersiaga di seberangnya.
Pasukan Belanda sukses mendekati Bonjol dlm jarak kira-kira melulu 250 tahapan pada tengah malam tanggal 16 Juni 1835, lantas mereka mencoba menciptakan kubu pertahanan. Selanjutnya dengan memakai houwitser, mortir & meriam, pasukan Belanda menembaki Benteng Bonjol. Namun Kaum Padri tak bermukim diam dengan menembakkan meriam pula dari Bukit Tajadi. Sehingga dengan posisi yg tidak cukup menguntungkan, pasukan Belanda tidak sedikit menjadi korban. Pada tanggal 17 Juni 1835 pulang datang pertolongan tambahan pasukan sejumlah 2000 orang yg dikirim oleh Residen Francis di Padang & pada tanggal 21 Juni 1835, dengan kekuatan yg besar pasukan Belanda mengawali gerakan maju mengarah ke sasaran akhir yakni Benteng Bonjol di Bukit Tajadi.
Melihat kokohnya Benteng Bonjol, pasukan Belanda mencoba mengerjakan blokade terhadap Bonjol dengan maksud guna melumpuhkan suplai bahan makanan & senjata pasukan Padri. Blokade yg dilaksanakan ini ternyata tak efektif, karena malah kubu-kubu pertahanan pasukan Belanda & bahan perbekalannya yg tidak sedikit diserang oleh pasukan Kaum Padri secara gerilya. Disaat bersamaan semua pasukan Kaum Padri mulai hadir dari daerah-daerah yg sudah ditaklukkan pasukan Belanda, yakni dari sekian banyak negeri di Minangkabau & sekitarnya. Semua bertekad bulat untuk menjaga markas besar Bonjol hingga titik darah penghabisan, hidup mulia atau mati syahid.
Usaha untuk mengerjakan serangan ofensif terhadap Bonjol baru dilaksanakan kembali setelah bala pertolongan tentara yg terdiri dari pasukan Bugis datang, maka pada pertengahan Agustus 1835 penyerangan mulai dilaksanakan terhadap kubu-kubu pertahanan Kaum Padri yg sedang di Bukit Tajadi, & pasukan Bugis ini berada pada unsur depan pasukan Belanda dlm merebut satu persatu kubu-kubu pertahanan strategis Kaum Padri yg berada disekitar Bukit Tajadi. Namun sampai mula September 1835, pasukan Belanda belum sukses menguasai Bukit Tajadi, justeru pada tanggal 5 September 1835, Kaum Padri terbit dari kubu pertahanannya menyerbu ke luar benteng menghancurkan kubu-kubu pertahahan Belanda yg diciptakan sekitar Bukit Tajadi. Setelah serangan tersebut, pasukan Kaum Padri segera pulang masuk ke dlm Benteng Bonjol.
Pada tanggal 9 September 1835, pasukan Belanda mengupayakan menyerang dari arah Luhak Limo Puluah & Padang Bubus, tetapi hasilnya gagal, bahkan tidak sedikit menyebabkan kerugian pada pasukan Belanda. Letnan Kolonel Bauer, salah seorang komandan pasukan Belanda menderita sakit & darurat dikirim ke Bukittinggi lantas posisinya digantikan oleh Mayor Prager. Blokade yg berlarut-larut & keberanian Kaum Padri, membangunkan semangat keberanian rakyat sekitarnya guna memberontak & menyerang pasukan Belanda, sampai-sampai pada tanggal 11 Desember 1835 rakyat Simpang & Alahan Mati mengusung senjata & menyerang kubu-kubu pertahanan Belanda. Pasukan Belanda kewalahan menanggulangi perlawanan ini. Namun setelah datang pertolongan dari serdadu-serdadu Madura yg berdinas pada pasukan Belanda, perlawanan ini bisa diatasi.
Hampir setahun memblokade Bonjol, pada tanggal 3 Desember 1836, pasukan Belanda kembali mengerjakan serangan besar-besaran terhadap Benteng Bonjol, sebagai usaha terakhir guna penaklukan Bonjol. Serangan dahsyat ini dapat menjebol beberapa Benteng Bonjol, sampai-sampai pasukan Belanda bisa masuk menyerbu & sukses membunuh sejumlah keluarga Tuanku Imam Bonjol. Tetapi dengan kegigihan & motivasi juang yg tinggi Kaum Padri kembali sukses memporak-porandakan musuh sampai-sampai Belanda terusir & darurat kembali terbit dari benteng dengan meninggalkan tidak sedikit sekali korban jiwa di setiap pihak.
Kegagalan penaklukan ini benar-benar memukul kearifan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda di Jakarta yg waktu tersebut telah dipegang oleh Dominique Jacques de Eerens, lantas pada mula tahun 1837 mengantarkan seorang panglima perangnya yg mempunyai nama Mayor Jenderal Cochius guna memimpin langsung serangan besar-besaran ke Benteng Bonjol guna kesekian kalinya. Cochius merupaken seorang perwira tinggi Belanda yg memiliki kemahiran dlm strategi perang Benteng Stelsel.
Selanjutnya Belanda dengan intensif memblokade Bonjol dari segala jurusan sekitar sekitar enam bulan [16 Maret-17 Agustus 1837] dipimpin oleh jenderal & sejumlah perwira. Pasukan campuran ini mayoritas terdiri dari sekian banyak suku, laksana Jawa, Madura, Bugis & Ambon. Terdapat 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1. 103 tentara Eropa, 4. 130 tentara pribumi, tergolong didalamnya Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen [pasukan penolong Sumenap alias Madura]. Dalam susunan nama semua perwira pasukan Belanda itu di antaranya merupakan Mayor Jendral Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Mayor Prager, Kapten MacLean, Letnan Satu van der Tak, Pembantu Letnan Satu Steinmetz, & seterusnya. Kemudian ada pun nama Inlandsche [pribumi] laksana Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, Merto Poero & lainnya.
Dari Jakarta didatangkan terus ekstra kekuatan tentara Belanda, dimana pada tanggal 20 Juli 1837 mendarat dengan Kapal Perle di Padang, sebanyak orang Eropa & Sepoys, serdadu dari Afrika yg berdinas dlm tentara Belanda, direkrut dari Ghana & Mali, terdiri dari 1 sergeant, 4 korporaals & 112 flankeurs, serta dipimpin oleh Kapitein Sinninghe. Serangan yg bergelombang serta bertubi-tubi & hujan peluru dari pasukan artileri yg bersenjatakan meriam-meriam besar, selama tidak cukup lebih 6 bulan lamanya, serta pasukan infantri & kavaleri yg terus berdatangan. Pada tanggal 3 Agustus 1837 dipimpin oleh Letnan Kolonel Michiels sebagai komandan lapangan terdepan mulai tidak banyak demi tidak banyak menguasai keadaan, & kesudahannya pada tanggal tanggal 15 Agustus 1837, Bukit Tajadi jatuh, & pada tanggal 16 Agustus 1837 Benteng Bonjol secara keseluruhan bisa ditaklukkan. Namun Tuanku Imam Bonjol bisa mengundurkan diri terbit dari benteng dengan didampingi oleh sejumlah pengikutnya terus menuju wilayah Marapak.
Perundingan Tuanku Imam Bonjol
Dalam pelarian & persembunyiannya, Tuanku Imam Bonjol terus mengupayakan mengadakan konsolidasi terhadap semua pasukannya yg sudah bercerai-berai & lemah, namun sebab telah lebih 3 tahun bertempur melawan Belanda secara terus menerus, ternyata melulu sedikit saja yg bermukim & masih siap guna bertempur kembali. Dalam situasi seperti ini, tiba-tiba datang surat tawaran dari Residen Francisdi Padang untuk menyuruh berunding. Kemudian Tuanku Imam Bonjol mengaku kesediaannya mengerjakan perundingan. Perundingan itu disebutkan tak boleh lebih dari 14 hari lamanya. Selama 14 hari berkibar bendera putih & gencatan senjata berlaku.
Tuanku Imam Bonjol diminta guna datang ke Palupuh, lokasi perundingan, tanpa membawa senjata. Tapi urusan tersebut cuma jebakan Belanda untuk menciduk Tuanku Imam Bonjol, peristiwa tersebut terjadi di bulan Oktober 1837 & lantas Tuanku Imam Bonjol dlm situasi sakit langsung diangkut ke Bukittinggi lantas terus diangkut ke Padang, guna selanjutnya diasingkan. Namun pada tanggal 23 Januari 1838, ia dialihkan ke Cianjur, & pada akhir tahun 1838, ia kembali dialihkan ke Ambon. Kemudian pada tanggal 19 Januari 1839, Tuanku Imam Bonjol kembali dialihkan ke Menado, & di wilayah inilah setelah menjalani masa pengasingan selama 27 tahun lamanya, pada tanggal 8 November 1864, Tuanku Imam Bonjol menghembuskan nafas terakhirnya.
Penangkapan Tuanku Imam Bonjol
Meskipun pada tahun 1837 Benteng Bonjol bisa dikuasai Belanda, & Tuanku Imam Bonjol sukses ditipu & ditangkap, tetapi pertempuran ini masih berlanjut hingga akhirnya benteng terakhir Kaum Padri, di Dalu-Dalu [Rokan Hulu], yg waktu tersebut telah dipimpin oleh Tuanku Tambusai jatuh pada 28 Desember 1838. Jatuhnya benteng itu memaksa Tuanku Tambusai mundur, bareng sisa-sisa pengikutnya pindah ke Negeri Sembilan di Semenanjung Malaya, & akhirnya pertempuran ini dirasakan selesai lantas Kerajaan Pagaruyung diputuskan menjadi unsur dari Pax Neerlandica & distrik Padangse Bovenlanden sudah berada di bawah pemantauan Pemerintah Hindia-Belanda.
Sikap Patriotisme Kepahlawanan
Pengaruh dari pertempuran ini menumbuhkan sikap patriotisme kepahlawanan untuk masing-masing pihak yg terlibat. Selepas jatuhnya Benteng Bonjol, pemerintah Hindia-Belanda membina sebuah monumen guna mengenang cerita peperangan ini. Kemudian semenjak tahun 1913, sejumlah lokasi lokasi terjadi pertempuran ini ditandai dengan tugu & dimasukan sebagai area wisata di Minangkabau. Begitu pun selepas kebebasan Indonesia, pemerintah setempat pun membangun museum & monumen di Bonjol & dinamai dengan Museum & Monumen Tuanku Imam Bonjol. Perjuangan sejumlah tokoh dlm Perang Padri ini, mendorong pemerintah Indonesia lantas menetapkan Tuanku Imam Bonjol & Tuanku Tambusai sebagai Pahlawan Nasional.
Komentar
Posting Komentar