Setelah menikah, urusan yang lumrah terjadi ialah berubahnya hubungan pertemanan. Namun perubahan tersebut bukan berarti anda harus kehilangan teman-teman. Semestinya sebagaimana meningkatnya keluarga, pernikahan pun seharusnya menambah susunan pertemanan anda yang baru. Yaitu rekan dari pasangan kita.
Namun yang patut anda ingat, dalam pernikahan, anda tak sebebas ketika kita sendiri. Dalam pertemanan, usahakan anda berpegang pada etika pergaulan dalam lokasi tinggal tangga, demi mengawal hubungan keluarga, hubungan dengan pasangan tetap baik.
Tentu saja, kehangatan cinta dan kasih sayang terhadap pasangan menunjukkan kita guna beretika dengan baik. Kita akan tidak jarang kali ingat benteng ini:
1. Ada batasan dalam berteman. Dalam reuni, seringkali kita lupa, bahwa anda tidak seperti dulu lagi. Bagi individu yang gampang kehilangan kontrol, terdapat baiknya bila reuni atau kumpul teman, membawa istri, atau suami dan anak. Hal ini bukan nampak saja bertujuan sebagai penguat pertemanan, tapi pun untuk mengingatkan kita, bahwa kita muncul sebagai orang yang telah berkeluarga.
2. Ada etika dalam berteman. Hormatilah pasangan teman, sebagaimana kamu bercita-cita temanmu memuliakan pasanganmu.
3. Temanmu bukan konsultanmu. Pada ketika lajang, barangkali kita biasa berbagi kisah dengan teman. Tapi ketika berumah tangga, sebaikanya masalah family tidak di obral untuk teman. Karena keterampilan atau teknik mencerna masalah family dan lajang pasti berbeda.
Ingatlah selalu, mengapa pasangan anda sebut belahan jiwa? Karena sesudah menikah, anda dan pasangan laksana menjadi satu individu, dalam bahasa anda ‘sepasang’. Pertemanan mesti bisa diterima oleh kedua belah pihak. Karena pertemanan yang melulu diterima di antara pihak, akan menimbulkan masalah baru dalam lokasi tinggal tangga yang sebetulnya dapat dihindari.
sumber:manaberita,com

Komentar
Posting Komentar