KISAH PANEMBAHAN BODHO DAN SUNAN KALIJAGA

GELAR PANEMBAHAN BODHO ORA ATEGES BODHO TANPA NGELMU, ANANGING PINTER 
RUMONGSO KANTHI ANDAP ASOR, TANPA PAMRIH BONDHO LAN PANGUWOSO

Diceritakan pada sebuah hari Raden Trenggono mendapat sindiran dari kerabatnya supaya ia segera mempersiapkan diri guna menggayuh keagungan dan keluhuran untuk menjangkau kaswargan . Ada pula yang menyerahkan nasehat laksana diatas secara cerah - terangan .

Pada sebuah hari Raden Trenggono berjalan mencari sungai sampai sampailah pada suatu hutan wijen dan bertemu dengan seorang yang gagah dan tampan. Melihat sosok orang itu Raden Trenggono timbullah keinginannya supaya dapat menatap dan berkata dengannya , namun sebab begitu saktinya orang itu menyelinap dan menghilang dari pandangan Raden Trenggono ,orang itu tidak lain ialah Sunan Qadle atau Sunan Kalijaga. 

Karena Raden Trenggono bercita-cita memiliki kesaktian dan ilmu laksana Sunan Kalijaga , maka ia mengabdi untuk Ki Ageng Gribig di Temanggung . Di Temanggung Raden Trenggono semakin tinggi tekadnya guna mempelajari dan menelaah ilmu agama Islam. Akhirnya ia dipungut menantu oleh Ki Ageng Gribig dan mendapat tugas guna menyiarkan agama Islam .

Asal awal sebutan KI Bodho, pada mula perjuangan syiar agama, pada waktu tersebut di pulau jawa baru merasakan ancaman penjajahan portugis, sampai-sampai beredar kabar bakal ada penyerangan lewat pantai selatan. Untuk Raden Trenggono penyerangan dimulai dengan suara gemuruh (jlegur-jlegur) dari sura meriam, dimana sebetulnya suara utu ialah suara ombak laut di pantai selatan. 

Keadaan itu memaksa Raden trenggono guna bersiap-siap menghadapi serangan portugis sehingga lantas membangun pos penjagaan di distrik pantai selatan.
Pada ketika itu, Sunan kalijaga datang di nanggulan, sehingga memahami apa yang digarap Raden Trenggono. Sunan Kalijaga mengetahui bahwa ternyata Raden Trenggono masih Bodho dan tidak cukup berpengalaman. Oleh sebab kebodohannya tersebut Raden Trenggono memiliki sebutan KI BODHO

Pada mula kekuasaan panembahan senopati, Kerajaan mataram masih bersengketa dengan sultan pajang. Sultan Pajang bercita-cita untuk unik kembali apa yang telah diputuskan sebelumnya dengan ki ageng pamanahan mengenai tanah guna mataram. 
Dari keinginannya tersebut Sultan pajang berupaya guna senantiasa meningkatkan keterampilan dan kesaktiannya guna merebut pulang tanah Pajang yang sudah dikuasai mataram.

Sultan Pajang memahami sejarah eyang Raden Trenggono (Adipati Terung I), dimana memiliki kesaktian yang spektakuler dan Sultan pajang beranggapan kesaktian tersebut telah diwarisi oleh cucunya yakni raden Trenggono. 
Berangkat dari pemikiran tersebut maka sultan pajang hendak berguru dan mewarisi kesaktian Raden Trenggono itu dengan menjajikan hadiah yang unik , tetapi Raden trenggono ingat dan menjunjung tinggi wasiat “ Tobat Turun pitu” dari eyangnya yakni menghindari dan tidak ikut campur dalam perebutan dominasi atau hal politik dengan sikap “tumbak waru ora melu-melu”, maka permohonan sultan pajang tidak bisa dipenuhi. 

Dengan paling kecewa Sultan pajang kembali tanpa membawa hasil dari keinginannya. Kepulangann sultan pajang yang kecewa itu senantiasa seraya bergumam bahwa raden trenggono tersebut KYAI Bodho.

Di masa akhir hayat KI BODHO terjadi peralihan dominasi dari Terung dan Pajang ke mataram. Panembahan senopati yang mulai berkuasa pada saat tersebut baru saja menuntaskan permasalahan dengan ki ageng mangir dimana wilayahnya dekat dengan pijenan. 
Panembahan Senopati tidak mengharapkan adanya pengaruh ki Ageng mangir terhadap Ki Bodho. Dalam usaha panembahan senopati menjaga supaya tidak terdapat pengaruh dari bekas hulubalang ki ageng mangir, serta rasa hormat dan segan beliau terhadap pewaris dan keturunan adipati Terung tersebut,maka Ki Bodho diberi lokasi tinggal pemukiman di sebelah barat keraton Mataram dan diberi nama dusun BODHON. 

Disamping itu, kesudahannya panembahan senopati memberi penghargaan beda yang lebih tinggi pada KI Bodho yaitu diberi ganti distrik Terung yang sudah di kuasai Mataram, suatu tanah perdikan dengan distrik bekas kekuasan mangir yang letaknya disebelah unsur timur sungai PROGO ke unsur utara sampai kaki gunung merapi. KI BODHO diberi status sebagai penguasa Tanah perdikan itu dan diberi gelar PANEMBAHAN, sampai-sampai lebih dikenal dengan sebutan PANEMBAHAN BODHO

Akhirnya beliau meninggal dunia dan dimakamkan di Pasarean Sewu atau Makam Sewu yang letaknya di desa WIJIREJO,PANDAK BANTUL YOGYAKARTA. 

Di pesarean Makam Sewu, masing-masing tahun diselenggarakan acara yang sudah turun temurun sebagai warisan kebiasaan adiluhung semua pendahulu yaitu acara “ nyadran Makam sewu” acara ini diselenggarakan para berpengalaman waris dan anak keturunan, sebagai wujud rasa hormat dan baktinya pada Panembahan Bodho.


Komentar